29 Oktober 2008
Demam Buy Back
PASAR modal Tanah Air tengah dilanda demam. Namanya demam buy back. Ini merupakan demam yang membuat emiten atau perusahaan publik berhasrat membeli kembali (buy back) sahamnya karena harganya sudah murah.
(dikutip dari okezone.com)
14 Agustus 2008
PERKEMBANGAN INDEKS HARGA KONSUMEN/INFLASI
JULI 2008 INFLASI SEBESAR 1,37 PERSEN
Pada bulan Juli 2008 terjadi inflasi sebesar 1,37 persen dengan indeks harga konsumen (IHK) sebesar 111,59. Dari 66 kota, tercatat seluruh kota mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Manokwari 4,33 persen dengan IHK 117,45 dan terendah terjadi di Banda Aceh 0,25 persen dengan IHK sebesar 110,82.
Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh kenaikan indeks pada kelompok- kelompok barang dan jasa sebagai berikut : kelompok bahan makanan 1,85 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau 1,07 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas & bahan bakar 1,80 persen, kelompok sandang 0,81 persen, kelompok kesehatan 0,71 persen, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 1,74 persen serta kelompok transpor, komunikasi & jasa keuangan 0,71 persen.
Laju inflasi tahun kalender (Januari-Juli) 2008 sebesar 8,85 persen, sedangkan laju inflasi “year on year” (Juli 2008 terhadap Juli 2007) sebesar 11,90. persen.
Perkembangan harga berbagai komoditas pada bulan Juli 2008 secara umum menunjukkan adanya kenaikan. Berdasarkan hasil pemantauan BPS dengan menggunakan penghitungan dan tahun dasar baru (2007 = 100) di 66 kota (hasil SBH 2007) pada bulan Juli 2008 terjadi inflasi 1,37 persen, atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 110,08 pada bulan Juni 2008 menjadi 111,59 pada bulan Juli 2008. Laju inflasi tahun kalender 2008 yaitu 8,85 persen, sedangkan inflasi “year on year” (Juli 2008 terhadap Juli 2007) adalah 11,90 persen.
Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh kenaikan indeks pada semua kelompok barang dan jasa sebagai berikut : kelompok bahan makanan 1,85 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau 1,07 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas & bahan bakar 1,80 persen, kelompok sandang 0,81 persen, kelompok kesehatan 0,71 persen, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 1,74 persen serta kelompok transpor, komunikasi & jasa keuangan 0,71 persen. Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga selama bulan Juli 2008 antara lain: bahan bakar rumahtangga, daging ayam ras, telur ayam ras, tarif angkutan dalam kota, ikan segar, uang sekolah SD, cabe merah, emas perhiasan, semen, tarif angkutan udara, sewa rumah, bensin, uang sekolah SLTA, nasi beserta lauk, mie, uang kuliah akademi/perguruan tinggi, rokok kretek filter, batu bata/batu tela, uang sekolah SLTP, cat tembok, kontrak rumah, soto, upah pembantu rumahtangga, kacang panjang, bimbingan belajar, upah tukang bukan mandor, rokok kretek, besi beton, obat dengan resep, ketimun, kelapa, cabe hijau, kangkung, sate, es, pasir, uang sekolah TK, apel, kayu balokan, ikan diawetkan, ayam goreng, minuman ringan dan jeruk. Sedangkan komoditas yang mengalami penurunan harga adalah : bawang merah, minyak goreng, daun singkong dan wortel.
Pada bulan Juli 2008 kelompok-kelompok komoditi memberikan andil/sumbangan inflasi adalah sebagai berikut: kelompok bahan makanan 0,41 persen; kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,15 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas & bahan bakar 0,45 persen; kelompok sandang 0,06 persen; kelompok kesehatan 0,03 persen; kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,13 persen dan kelompok transpor, komunikasi & jasa keuangan 0,14 persen.
05 Februari 2008
Tujuan Strategis Yang Dicapai Melalui Kepemilikan Saham Oleh Karyawan
Persaingan pasar tenaga kerja meningkat untuk tenaga terampil dan karyawan yang cakap. Ketika berusaha merekrut karyawan potensial, kemampuan untuk menjanjikan mereka suatu penyertaan ekuitas dapat menjadi suatu sarana. Peluang keuangan berupa kepemilikan ekuitas akan menarik bagi beberapa – mungkin sebagian besar orang-orang yang cerdas dan berbakat - yang dibutuhkan oleh perusahaan. Mempertahankan karyawan yang ada juga akan lebih mudah jika mereka memiliki penyertaan modal.
- Peningkatan arus kas.
Kompensasi ekuitas seringkali dapat mengganti sebagian kompensasi kas. Program-program seperti stock grant dan program opsi saham dapat membuat suatu perusahaan bersaing dalam pasar tenaga kerja tanpa harus membayar gaji yang tinggi. 401 (k) plan, suatu bentuk program dana pensiun di Amerika, yang menawarkan kontribusi yang s suai (matching contribution) dalam saham perusahaan dapat menjadi suatu program tabungan pensiun yang menarik, juga tanpa memerlukan kontribusi kas sebagaimana dalam program pensiun lainnya. Sebuah program pembelian saham oleh karyawan dapat secara nyata meningkatkan arus kas perusahaan, pada saat karyawan membayar kas atas saham yang mereka terima.
- Motivasi dan Kinerja.
Ekuitas hanya akan bernilai jika kinerja perusahaan membuatnya bernilai. Oleh karena itu, karyawan yang memiliki kepentingan modal signifikan dalam perusahaannya akan memiliki insentif yang kuat untuk mencurahkan karya terbaiknya dalam memaksimalkan kinerja perusahaan dan nilai saham. Dengan demikian, kepemilikan saham oleh karyawan menyelaraskan kepentingkan karyawan dengan para pemegang saham. Selain itu, hal ini akan memperlakukan karyawan secara adil ketika mereka diberi penghargaan ekuitas dengan proporsi sesuai dengan kontribusi mereka kepada kinerja perusahaan.
- Pengembangan Budaya Kelompok.
Perusahaan-perusahaan dengan pengalaman kepemilikan karyawan jangka panjang telah menemukan bahwa hal tersebut memberikan dasar yang kuat dalam membangun budaya kerja yang kuat. Setelah dikembangkan dengan tepat, kepemilikan karyawan meningkatkan jiwa kebersamaan dan kerja tim, dimana seluruh karyawan bekerjasama memfokuskan pada tujuan kinerja perusahaan.
Karyawan menjadi lebih peka terhadap kebutuhan perusahaan dan mulai memikirkan dan bertindak seperti seorang pemilik.
- Memberikan pasar bagi saham pendiri.
ESOP dapat memberikan pasar yang menarik bagi saham dari perusahaan tertutup.
- Alat antisipasi pengambil-alihan.
Perusahaan-perusahaan yang mempertahankan diri dari pengambilalihan secara tidak bersahabat (hostile take-over), menggunakan ESOP untuk hal itu. Dalam hal penawaran pengambilalihan telah dilakukan, penggunaan ESOP sebagai alat bela diri menjadi agak terlambat. Namun, apabila ESOP telah dilaksanakan sebelum dimulainya usaha pengambialihan, ESOP menjadi alat yang efektif untuk mempertahankan diri.
(dikutip dari berbagai sumber)
Strategi Program Kepemilikan Saham Karyawan
a. Pemegang saham yang menjual sahamnya (divestasi);
b. Perusahaan;
c. Pemegang saham lain; dan
d. Karyawan.
Memperhatikan hal tersebut, pengambilan keputusan signifikan tentang penerapan ESOP memerlukan suatu studi kelayakan yang fokus pada beberapa pertanyaan mendasar dan ketentuan yang harus diperhatikan.
Dalam penyusunan program kepemilikan saham oleh karyawan, perlu diperhatikan pokok-pokok permasalahan strategis sebagai berikut :
1) mengidentifikasikan tujuan strategis dari kepemilikan karyawan;
2) pilihan antara kompensasi ekuitas atau kepemilikan dengan dasar meluas (broadbased ownership);
3) karakteristik usaha;
4) masalah pengendalian; dan
5) issue-issue kunci yang menunjang tujuan strategis.
(dikutip dari berbagai sumber)
Employee Stock Ownership Plans (ESOPs)
ESOPs non leveraged dirancang untuk investasi terutama dalam saham perusahaan yang mendukungnya. Dengan suatu ESOPs non leveraged, perusahaan membuat suatu kontribusi kepada suatu akun Trust setiap tahun atas nama masing-masing karyawan, kebanyakan perusahaan akan mengkontribusi ke suatu program pensiun. Kontribusi tersebut dapat dibuat dalam bentuk saham (yang memperbaiki arus kas perusahaan karena tidak memerlukan pengeluaran), atau dapat juga berbentuk kas yang kemudian digunakan oleh Trust untuk membeli saham perusahaan. Saham yang diperoleh dengan program ini dialokasikan kepada akun-akun perorangan yang dikelola untuk masingmasing karyawan yang berpartisipasi. Para karyawan menerima saldo akun mereka setelah pensiun atau pemberhentian oleh perusahaan.
Pada perusahaan yang tidak berencana untuk go public atau akan diakuisisi oleh seorang Penawar, Leveraged ESOPs telah menjadi sarana ekuitas yang digunakan secara meluas. Program ini dapat digunakan oleh pemilik perusahaan sebagai suatu strategi keluar, memungkinkan untuk menjual sahamnya kepada sekelompok karyawan sebesar nilai pasar wajar penuhnya. ESOPs mendanai pembelian dengan melalui suatu pinjaman, yang dijamin oleh perusahaan.
Secara singkat digambarkan, suatu jenis Leveraged ESOPs bekerja dalam empat tahap, sebagai berikut :
Tahap Pertama : nilai pasar wajar saham pemilik ditentukan melalui jasa seorang profesional, konsultan penilai independen;
Tahap Kedua : perusahaan membentuk suatu ESOPs, yang meliputi pembentukan suatu Trust yang akan memegang saham yang akan dibeli oleh para karyawan. Orang atau institusi yang ditunjuk oleh perusahaan akan bertindak sebagai trustee;
Tahap Ketiga : Trustee meminjam uang dari sebuah bank atau kreditur lainnya, menggunakan kredit perusahaan sebagai penjamin;
Tahap Keempat : Trustee mewakili pemilik dengan sebuah check untuk harga beli dan pemilik mentransfer sahamnya kepada trust. Kemudian, setelah perusahaan membayar kembali pinjaman ESOPs, saham tersebut dialokasikan kepada akun-akun perorangan yang telah dibentuk oleh trust untuk masing-masing karyawan.
(dikutip dari berbagai sumber)
28 Desember 2007
Reksadana
Manfaat yang diperoleh pemodal jika melakukan investasi dalam Reksa Dana, antara lain:
Pertama, pemodal walaupun tidak memiliki dana yang cukup besar dapat melakukan diversifikasi investasi dalam Efek, sehingga dapat memperkecil risiko. Sebagai contoh, seorang pemodal dengan dana terbatas dapat memiliki portfolio obligasi, yang tidak mungkin dilakukan jika tidak tidak memiliki dana besar. Dengan Reksa Dana, maka akan terkumpul dana dalam jumlah yang besar sehingga akan memudahkan diversifikasi baik untuk instrumen di pasar modal maupun pasar uang, artinya investasi dilakukan pada berbagai jenis instrumen seperti deposito, saham, obligasi.
Kedua, Reksa Dana mempermudah pemodal untuk melakukan investasi di pasar modal. Menentukan saham-saham yang baik untuk dibeli bukanlah pekerjaan yang mudah, namun memerlukan pengetahuan dan keahlian tersendiri, dimana tidak semua pemodal memiliki pengetahuan tersebut.
Ketiga, Efisiensi waktu. Dengan melakukan investasi pada Reksa Dana dimana dana tersebut dikelola oleh manajer investasi profesional, maka pemodal tidak perlu repot-repot untuk memantau kinerja investasinya karena hal tersebut telah dialihkan kepada manajer investasi tersebut.
Seperti halnya wahana investasi lainnya, disamping mendatangkan berbagai peluang keuntungan, Reksa Dana pun mengandung berbagai peluang risiko, antara lain:
- Risko Berkurangnya Nilai Unit Penyertaan.
- Risiko ini dipengaruhi oleh turunnya harga dari Efek (saham, obligasi, dan surat berharga lainnya) yang masuk dalam portfolio Reksa Dana tersebut.
- Risiko Likuiditas
- Risiko ini menyangkut kesulitan yang dihadapi oleh Manajer Investasi jika sebagian besar pemegang unit melakukan penjualan kembali (redemption) atas unit-unit yang dipegangnya. Manajer Investasi kesulitan dalam menyediakan uang tunai atas redemption tersebut.
- Risiko Wanprestasi
- Risiko ini merupakan risiko terburuk, dimana risiko ini dapat timbul ketika perusahaan asuransi yang mengasuransikan kekayaan Reksa Dana tidak segera membayar ganti rugi atau membayar lebih rendah dari nilai pertanggungan saat terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti wanprestasi dari pihak-pihak yang terkait dengan Reksa Dana, pialang, bank kustodian, agen pembayaran, atau bencana alam, yang dapat menyebabkan penurunan NAB (Nilai Aktiva Bersih) Reksa Dana.
- Reksa Dana Pasar Uang (Moner Market Funds). Reksa Dana jenis ini hanya melakukan investasi pada Efek bersifat Utang dengan jatuh tempo kurang dari 1 (satu) tahun. Tujuannya adalah untuk menjaga likuiditas dan pemeliharaan modal.
- Reksa Dana Pendapatan Tetap (Fixed Income Funds). Reksa Dana jenis ini melakukan investasi sekurang-kurangnya 80% dari aktivanya dalam bentuk Efek bersifat Utang. Reksa Dana ini memiliki risiko yang relatif lebih besar dari Reksa Dana Pasar Uang. Tujuannya adalah untuk menghasilkan tingkat pengembalian yang stabil.
- Reksa Dana Saham (Equity Funds). Reksa dana yang melakukan investasi sekurang-kurangnya 80% dari aktivanya dalam bentuk Efek bersifat Ekuitas. Karena investasinya dilakukan pada saham, maka risikonya lebih tinggi dari dua jenis Reksa Dana sebelumnya namun menghasilkan tingkat pengembalian yang tinggi.
- Reksa Dana Campuran (Discretionary Funds). Reksa Dana jenis ini melakukan investasi dalam Efek bersifat Ekuitas dan Efek bersifat Utang.
